Tambang mas di Sulawesi Utara - NSWA Press Release

Juli 2006

Sehubungan dengan perkembangan dan aktivitas baru dari tambang di bawah manajemen gabungan antara PT. Meares Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN) di Toka Tindung, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, the North Sulawesi Watersports Association (NSWA) kuatir terhadap potensi dampak-dampak negatif penting akan lingkungan, sosial dan ekonomi dalam jangka panjang pada bidang industri dan daerah ini. NSWA tidak yakin bahwa proses peninjauan kembali dan pengambilan keputusan secara bijaksana dan adil telah siap dan kami menganjurkan Pemerintah untuk menentukan dan melaksanakan suatu proses yang adil dan terbuka akan hal ini. Sebuah surat telah dikirimkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup kepada PT. MSM/PT. TTN yang menasehati bahwa AMDAL mereka mungkin telah tidak berlaku dan karenanya perlu ditinjau kembali.

Beberapa pernyataan MSM mengenai penelitian ilmiah yang dilakukan untuk AMDAL-nya telah ditentang oleh ilmuwan-ilmuwan terhormat:

Pernyataan MSM no.1

"Data arus di Selat Lembeh dari informasi kami juga melintas dari Selatan ke Utara dan karenanya mengurangi kemungkinan dari pengaruh pada wilayah laut yang penting ini…"
Para ilmuwan yang memiliki pengetahuan mendalam tentang arus di dan sekitar Selat Lembeh sepenuhnya tidak setuju dengan pernyataan ini, demikian pula operator penyelaman setempat yang memiliki pengetahuan mendalam akan kondisi laut di Selat tersebut.

Pernyataan MSM no.2

"Analisis kimiawi atas pembuangan sisa-olahan (tailings) adalah sesuai dengan standar lingkungan tertinggi di Australia dan Indonesia, maka sisa-olahan akan sebersih-bersihnya. Komponen padat sisa-olahan memiliki kandungan kimiawi yang setara dengan contoh lumpur dasar laut yang diambil dari daerah tersebut."
NSWA mempertanyakan apa tepatnya kandungan kimiawi yang setara dengan lumpur dasar laut - apakah kadar logam berat dan jenis bahan kimianya persis benar? Juga, bagaimana dengan komponen "cair" dari sisa-olahan tersebut? (Kalau itu penuh dengan logam berat yang cepat terserap oleh komponen padatnya lalu tenggelam ke dasar laut, ini mementahkan seluruh dasar pemikiran MSM.)

Pernyataan MSM no. 3

"Endapan tidak akan naik di atas 140m dari percontohan detail komplit saat ini…. Arus-dekat-permukaan adalah lebih rumit terutama dekat pantai dan karena itulah sisa-olahan harus dibuang di kedalaman."
Adalah logis berasumsi bahwa arus-dalam juga rumit, kecuali MSM dapat menunjukkan kepada kita bahwa dia memiliki data absah pemantauan arus-dalam (yaitu pengukur-arus/current meter yang ditanam pada kedalaman 150m atau 200m). Apakah penelitian-penelitian arus tersebut akurat dan apakah hasilnya benar-benar dimasukkan dalam percontohan tersebut? Apakah MSM meniru dengan tepat tingkah laku dari apa yang pada dasarnya suatu sisa-olahan adalah "emulsi/larutan" (endapan yang digiling sangat halus tercampur dalam air)? Apakah sudah diperhitungkan hal mengenai "biological upwelling" di mana plankton laut-dalam dapat tercemari oleh pemaparan sisa-olahan dan kemudian membawa pencemaran ini kembali ke atas ke rantai-makanan di permukaan ketika mereka melakukan migrasi-vertikal hariannya dari kedalaman 100an meter ke permukaan setiap malam?

Jika penelitian MSM ditunjukkan telah dilakukan dengan cara yang tidak memadai, maka AMDAL mereka telah roboh dan mereka tidak akan bisa membuktikan bahwa aktivitas mereka akan menunjang kelestarian lingkungan. Dalam hal ini, NSWA berkeyakinan bahwa penelitian yang lebih mendalam atas percontohan-detail ini sudah akan dilakukan oleh suatu peninjauan ilmiah independen dan kami akan mendesak pemerintah untuk menunda pemberian ijin operasional kepada MSM hingga penelitian baru tersebut diselesaikan.

Sanggahan secara sosio-ekonomi terhadap pertambangan di Sulawesi Utara

MSM menentukan rencana lokasinya untuk STD (Submarine Tailings Dispossal = Pembuangan Sisa-olahan Bawah-laut) dengan mengatakan bahwa tempat itu "prinsipnya adalah wilayah penangkapan ikan". Seandainya pun hal ini betul, harus dicatat bahwa perikanan sudah memberikan milyaran rupiah setiap tahunnya kepada perekonomian kita. MSM mengatakan bahwa "Kegiatan penambangan Toka akan berlangsung sekitar 6-8 tahun...", yang berarti bahwa pendapatan potensial dari penambangan itu, seberapapun besarnya, adalah terbatas. Jika suatu kegiatan pertambangan di Sulawesi Utara aka meruka lingkungan bahari, potensi bagi sektor perikanan untuk terus berkontribusi bagi perekonomian provinsi akan hilang bagi generasi penerus, maka pertambangan, sembari menawarkan suatu keuntungan jangka pendek, dapat merugikan perekonomian kita dalam jangka panjang. Kita tahu dari pengalaman sebelumnya bahwa suatu anggapan mengenai menurunnya kualitas lingkungan laut akan mengakibatkan bencana kerugian besar bagi masyarakat perikanan (industri perikanan Sulawesi Utara menderita kerugian lebih dari Rp 314 milyar antara 2002 dan 2003 sebagai akibat langsung akan rumor/kabar burung bahwa ada merkuri/air raksa di dalam ikan).

Tetapi wilayah yang dipertanyakan bukanlah sekedar wilayah penangkapan ikan-di situ sangat kaya akan species langka dan eksotik, yang telah mengalami investasi pariwisata dan diperuntukkan bagi pengembangan lebih jauh. Wilayah itu sudah sejak lama dikenal sebagai suatu provinsi dengan potensi unggul bagi pengembangan sektor pariwisata alam. Jika lingkungan bahari dirusak, kemampuan sektor tersebut untuk bertahan hidup atau bertumbuh juga akan terhalangi. Indonesia menjalankan prinsip pariwisata berwawasan kelestarian lingkungan, maka NSWA meminta pemerintah provinsi Sulawesi Utara untuk datang melindungi keberadaan para investornya di bidang pariwisata.

Sanggahan dari sisi lingkungan

Lingkungan bahari Sulawesi Utara mengandung banyak species yang termasuk dalam daftar di ambang kepunahan seperti coelacanth (ikan raja laut). Sebagai tuan rumah dari World Ocean Summit 2009 (Konferensi Tingkat Tinggi Bahari Sedunia), Sulawesi Utara mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat internasional untuk melindungi species-species tersebut.

"Harus ada pekerjaan baik yang dilakukan dalam memperhatikan keberlanjutan dari mata pencaharian orang-orang di daerah ini bersamaan dengan pemeliharaan lingkungan karang."
(PT Meares Soputan Mining, 08 June 2006)


Apakah NSWA itu?

NSWA adalah suatu asosiasi dari 20 pengusaha wisata diving dan resort diving yang bekerja sama untuk mengembangkan pelayanan wisata, keselamatan penyelaman dan kegiatan-kegiatan ramah-lingkungan di Sulut dan mempromosikan provinsi ini sebagai daerah tujuan wisata. Setiap pengusaha diving berlisensi dipersilakan bergabung, apakah pengusaha asing maupun Indonesia. NSWA yakin dalam bekerja sama secara erat dengan masyarakat perikanan untuk melestarikan lingkungan laut Sulut, karena kedua kelompok (usaha penyelaman dan perikanan) memanfaatkan laut untuk memperoleh mata pencaharian mereka. Namun NSWA bukanlah suatu badan pemerintah ataupun badan lingkungan hidup dan, berlawanan dengan beberapa anggapan, tidak mengelola Taman Nasional Bunaken.

Back to top


© Dive North Sulawesi